• Webet188 : member yang mengikuti bet-bet yang mencurigakan ( ghost betting liga bawah ) , akan kami suspend atau tutup iD tanpa negosiasi lagi. . . . . . . .
jackpot
USD
+62852 8000 5522
 
webet188
 
+62852 8000 5522

Ranieri, Traktiran Pizza, dan Mantra Dilly Ding Dilly Dong

Ranieri, Traktiran Pizza, dan Mantra Dilly Ding Dilly Dong webet188
Webet188 – Claudio Ranieri bukan lagi Mr. Runner-up. Tapi dia tetaplah Mr. Niceman. Tetap ramah kepada media, mentraktir pizza Jamie Vardy dkk., dan punya mantra ‘Dilly ding, dilly dong’.

Ranieri punya sederet julukan. Dia disebut sebagai The Tinkerman oleh media-media Inggris karena seringnya mengganti formasi dalam sebuah tim.

Dia juga mendapatkan predikat Mr. Niceman karena dia dikenal sebagai sosok yang rendah hati dan hangat. Saking rendah hatinya, julukan itu lama-lama mengandung ejekan. Ranieri disebut tak mempunyai karakter kuat untuk bisa membawa sebuah klub menjadi juara.

Karena karakter itu julukan untuk Ranieri bertambah. Dia kemudian lekat dengan sebutan Nearlyman. Italiano itu cuma bisa hampir membuat sebuah tim nyaris juara, sudah berhasil kebut-kebutan di papan atas tapi menutup musim sebagai runner-up.

Satu lagi, Ranieri juga lekat sebagai Mr. Runner-up. Julukan yang punya makna sama saja, membuat tim nyaris juara. Sialnya, dia selalu dipecat dengan hasil-hasil nyaris juara itu.

Dengan nasibnya tersebut, Ranieri bahkan pernah menyatakan rasa irinya kepada Arsene Wenger yang awet di Arsenal kendati sudah cukup lama tak jadi juara lewat kelakar. “Semestinya saya melatih Arsenal, ya,” canda dia waktu itu.

Maka, cemoohan dan kritik deras menghampiri Leicester yang merekrut Ranieri di awal musim ini. Apalagi sebelum menangani Leicester, Ranieri menganggur usai dipecat tim nasional Yunani.

Timnas Yunani hanya meraih satu poin dari empat pertandingan yang dilakoni. Puncak dari pekerjaan itu adalah ketika Yunani dikalahkan Kepulauan Faroe yang biasanya menjadi lumbung gol bagi lawan-lawannya.

Tapi, keraguan publik dan predikat Ranieri sebagai Mr. Runner-up menguap musim ini. Dia juga bukan lagi Nearlyman. Mungkin yang tersisa hanyalah julukan Mr. Niceman. Ranieri, pria 64 tahun kelahiran Roma, Italia itu telah sukses mengantarkan Leicester menjadi juara musim ini dengan cara yang amat manis.

Leicester menjadi juara bertepatan saat pesaing terdekat mereka, Tottenham Hotspur diimbangi Chelsea 2-2 di Stamford Bridge pada 3 Mei. Para pemain Leicester merayakan gelar itu dengan nobar di rumah Vardy. Fans Leicester nonton di markas klub, King Power Stadium.

Chelsea bahkan juga turut merayakan gelar juara Leicester seolah mereka berhasil mempertahankan gelar juara. Sampai-sampai, striker Spurs Harry Kane menyindir perayaan The Blues itu.

Ya, dia tetaplah Mr. Niceman. Faktanya sepanjang musim ini Ranieri menunjukkan kalau dirinya seorang yang santun, tetap rendah hati dan pokoknya benar-benar Niceman. Misalnya saja, dia tak muluk-muluk dalam mematok target. Cukup 40 poin, yang penting tak terdegradasi. Bahkan dia tak mengubah susunan asisten pelatihnya untuk menghormati manajer Leicester yang sebelumnya, Nigel Pearson.

Kemudian mentraktir para pemainnya di sebuah restoran pizza setelah Leicester membuat clean sheet dan berjanji untuk meneruskan traktiran itu kalau bisa membuatnya lagi.

Cuma itu? Tidak! Ranieri juga mengajak para pemain berpesta kostum dengan berdandan ala tokoh-tokoh komik di Kopenhagen dalam pesta Natal tahun lalu. Ada yang bergaya kura-kura ninja, power rangers, spiderman, dan babana man.

Satu lagi rahasia Ranieri untuk para pemain Leicester. Pria tua itu mempunyai bel imajiner untuk menjaga konsenterasi anak buahnya. Ketika melihat para pemainnya kelelahan atau tidak fokus, Ranieri akan berteriak keras

“Dilly ding, dilly dong! Latihan dimulai! Dilly ding, dilly dong!”

Teriakan itu seolah menjadi alarm untuk membangunkan para pemain. Katanya sih, kebiasaan itu sudah dimulai Ranieri ketika melatih kesebelasan Serie-A itu pada periode 1988 hingga 1991.

Kata-kata Dilly ding, dilly dong itu kemudian kerap ditirukan para pemain untuk mencairkan suasana ruang ganti.

Saat Spurs menghadapi Chelsea, yang artinya Leicester sudah amat dekat menjadi juara, Ranieri pulang kampung. Dia menjenguk ibunya, Renata, dan mengajaknya makan siang di kota Roma. Kemudian membawa istrinya, Rosanna, terbang ke Leicester dengan jet milik bos klub.

Masih meragukan Pak Tua yang satu ini?

Metode Pembayaran

ewallet crypto baru bank baru

JADWAL OFFLINE BANK

anda bisa pasang taruhan pada saat bank offline.